Tribute: Kamal Djunaidi

By Hysa Ardiyanto
Tidak seperti biasanya, sekitar jam empat sore tadi kawasan UGM tidak diguyur hujan. Cuaca yang baik itu saya manfaatkan untuk main bola di halaman Auditorium UGM. Setelah sekitar sejam bermain tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras disertai petir. Spontan saja semua orang di lapangan mengambil posisi tiarap. Setelah petir pertama yang cukup keras suaranya permainan belum berhenti, namun setelah itu kilatan petir kembali terlihat bertubi-tubi sehingga memaksa untuk mengakhiri permainan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada beberapa catatan sejarah mengenai meninggalnya pemain sepak bola akibat tersambar petir, salah satunya di bawah ini:
Adalah Kamal Djunaidi yang menjadi pahlawan Persijap di final Piala Makutarama 28 Agustus 1973. Kala itu Persijap menghadapi Persipa Pati pada laga yang digelar di Salatiga itu. Menjelang kick off babak pertama, “Langit cerah, tak ada pertanda hujan akan turun,” kata Soekamto SH, Ketua Komisi Teknik dan Kepelatihan Persijap. Wasit Dardiri asal Salatiga meniup peluit dan babak pertama pun dimulai. Babak pertama berakhir, Persijap unggul melalui gol yang dicetak oleh Kamal Djunaidi.
Babak kedua dimulai, langit berubah mendung dan halilintar mengelegar. Api terlihat di lapangan, hampir semua pemain termasuk wasit tergeletak di lapangan dan saat itulah tragedi yang tak terlupakan bagi Persijap terjadi. Kamal Djunaidi tersambar petir, tubuhnya mengeluarkan asap, pakaian dan sepatunya terbakar. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di lapangan dengan menorehkan sejarah. Satu-satunya gol yang dicetaknya di babak pertama mengantarkan Persijap menjuarai Piala Makutarama. Kini nama Kamal Djunaidi dikenal sebagai nama stadion markas Persijap yang menjadi kebanggan masyarakat Jepara.
Sumber:

Leave a Reply