Quote: konsistensi

September 23, 2008

Kalau melihat “prestasi” sepak bola negeri kita, ibu-ibu di negeri kita pantas kalau melarang anak-anaknya bermain bola. Indonesia Super League yang diharapkan menjadi tonggak prestasi sepak bola Indonesia sudah diwarnai kerusuhan suporter di Malang dan Makassar di saat kompetisi belum berumur sepuluh pekan. Di Brasil mungkin masih ada kerusuhan suporter, tetapi mereka sudah lima kali merajai jagad sepakbola .Pemain mereka bertebaran di seluruh pelosok dunia, mewarnai hampir setiap liga sepakbola di dunia.

Ronaldo kecil yang memainkan bola sepanjang hari di jalanan Rio de Janiero mungkin tidak banyak berbeda dengan anak-anak kecil di Indonesia yang bermain bola di jalanan, tanah-tanah lapang atau di pantai-pantai. Tidak semua dari mereka mempunyai sepatu untuk bermain sepakbola, tidak semua mempunyai uang untuk mendaftar sekolah sepakbola, tak semua didukung oleh orang tuanya untuk bermain bola. Tapi apa yang membuat dia menjadi Pemain Terbaik FIFA 1996, 1997 dan 2002? Pastinya bukan karena membohongi ibunya, tetapi karena selalu ada bola di kakinya. Sebuah konsistensi!

Ketika saya masih kecil, saya pernah bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola. Bahkan saya menuliskannya di buku kenang-kenangan SD saya. Saya juga dilarang ibu saya bermain bola dan harus sebisa mungkin tidak ketahuan kalau bermain bola. Tapi sepertinya saya tidak pernah benar-benar memutuskan untuk selamanya bermain bola, saya tidak konsisten terhadap cita-cita saya. Itulah mengapa saya gagal terhadap cita-cita yang satu ini.

T90 Omni

September 19, 2008

Anda penggemar tayangan sepakbola? Musim ini Anda akan sering melihat yang satu ini. Inilah Nike T90 Omni match Ball. Jenis ini dipakai secara resmi untuk Premier League, Serie A dan Primera Division musim kompetisi 2008/2009. Selain tiga liga top dunia tadi, sepertinya liga-liga lain juga ada yang memakai Seri Omni ini, namun tiga liga top dunia tadi sudah lebih dari cukup mewakili dominasi Nike sebagai biangnya bola kelas kompetisi. T90 Omni meneruskan kesuksesan Nike merajai liga top dunia sebagai oficial match ball setelah generasi T90 Aerow.

Logo Kompetisi Aroma Turnamen?

July 29, 2008

(http://www.bli-online.com/)

Logo Djarum Indonesia Super League (ISL) telah resmi diluncurkan. Perubahan nama ini diharapkan menjadi tonggak dimulainya liga profesional di Indonesia. Nilai profesionalisme yang dimaksud salah satunya terdapat pada aspek pendanaan klub. Sebagai bentuk profesionalisme, klub didorong untuk mengubah wajahnya agar sesuai dengan dunia industri. Kucuran dana pemerintah ditutup untuk mendorong klub mau berusaha menggandeng sponsor dari pihak swasta. Intinya ISL menjadi tonggak bangkitnya sepakbola industri di Indonesia.

Selain aroma industri / profesionalitas yang ingin ditampilkan oleh format ISL, dalam brief diharapkan “Love the Ball, Love the Game” menjadi tema dari logo ISL. Posting ini akan mencoba memberikan komentar atas logo ISL yang telah resmi dipakai tersebut. Saya beranggapan bahwa logo ISL mempunyai tipikal yang sejenis dengan logo UERO 2004 Portugal. Konsep yang ditampilkan keduanya sama-sama menggunakan sapuan kuas dengan warna-warna cenderung pastel. Apalagi kalau memperhatikan tema yang diusung, “LOVE” sebagai spirit yang ingin ditampilkan dalam logo ISL terwujud secara visual dengan jelas pada logo EURO 2004.

Komposisi keduanya juga terdapat kemiripan yaitu adanya bola di tengah yang dikelilingi ornamen bentuk lainnya. Dalam logo EURO 2004 ornamen itu berbentuk lambang “love” sedangkan dalam logo ISL berupa sapuan yang membentuk figur huruf “S” (saya tidak tahu pasti, tapi saya menduga maksud dari sapuan itu adalah bentuk huruf “S”). Warna hitam sebagai background penempatan logo (atau bagian dari logo itu sendiri) membuat kedua logo tersebut semakin “mirip”.

Apakah logo ISL terinsipirasi dari logo EURO 2004? Saya tidak tahu, toh tidak ada yang benar-benar baru, nothing new under the sun. Kalaupun logo ISL mengambil inspirasi dari logo-logo yang sudah ada untuk event-event sepakbola dunia, mengapa mengambil inspirasi dari event yang sifatnya turnamen (bukan kompetisi)?

Logo EURO 2004 sebagai logo untuk event turnamen sangat tepat. Kesan yang ditimbulkanya adalah suasana perayaan, kegembiraan, kebersamaan, ada nuansa festival-nya. Event yang digelar empat tahunan tersebut memang menghadirkan aroma persaingan, gengsi, adu kekuatan. Namun di luar itu faktor hajatan, seremoni, perayaan, sesuatu yang spesial, sesuatu yang hadir hanya pada saat-saat tertentu tidak bisa dipisahkan. Inilah yang membedakannya dengan event kompetisi dimana persaingan dan adu tangguh menjadi aroma dominan.

Dengan demikian, logo ISL yang (dalam dugaan saya) terinspirasi dari logo event turnamen terasa kurang menusuk aroma kompetisinya. Spirit “love” yang ingin ditampilkan terlalu mendominasi, sehingga mengalahkan spirit yang lain seperti “profesionalisme” yang cenderung tampil dalam bentuk-bentuk dan warna-warna yang tegas, kaku.

Saya menilai logo BUNDESLIGA adalah salah satu logo yang tepat untuk menggambarkan spirit kompetisi. Elemen logo utamanya menampilkan gerak seorang pemain yang menunjukkan kesan dinamis. Warna yang digunakan cenderung tegas, kaku, flat dan tidak banyak bermain-main.

Begitulah komentar saya tentang logo ISL. Logo memang tidak bisa mengubah segala sesuatunya begitu saja, tapi perubahan bisa diawali dengan logo yang tepat. Semoga.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.